Masa pandemi mengubah peta duniaku. Jalanan yang dulu ramai menjadi sunyi, sekolah menjadi layar laptop yang membosankan, dan satu-satunya kompas yang kuikuti setiap sore adalah jalan menuju rumahnya. Rumahnya menjadi satu-satunya tujuanku, sebuah surga kecil yang kebal dari kekacauan di luar. Kami punya ritme kami sendiri di sana. Biasanya kami akan menonton film, dengan sebungkus keripik kentang dan dua botol teh dingin di antara kami, atau sekedar berbaring di karpet sambil mendengarkan musik dari satu pasang earphone yang kami bagi dua.
Kepercayaan di antara kami sudah pada level di mana privasi seakan melebur. Ponselku seringkali tergeletak begitu saja di sofa, tanpa kunci, karena aku merasa tidak ada satu pun hal di dalamnya yang perlu kusembunyikan darinya. Sebuah asumsi yang naif, yang akan segera kuhadapi konsekuensinya.
Sore itu, aku pergi ke dapur untuk mengisi ulang gelas kami. Saat aku kembali, suasana di ruangan itu telah berubah. Dia tidak lagi berbaring santai. Dia duduk tegak di sofa, memegang ponselku, punggungnya sedikit menghadap ke arahku. Tidak ada suara film, hanya keheningan yang aneh.
"Lagi seru ya main HP-nya?"tanyaku, mencoba mencairkan suasana dengan candaan.
Dia tidak menjawab. Perlahan, dia menoleh. Matanya yang biasanya bersinar kini tampak redup dan berkaca-kaca. Tanpa kata, dia menyodorkan ponsel itu ke arahku. Jantungku berdebar, sebuah firasat buruk mulai merayap. Aku melihat layar yang terbuka, menampilkan percakapanku dengan Bunda. Dan mataku langsung tertuju pada beberapa baris terakhir.
Bunda:"Kamu jangan main terus sama pacar kamu. Kamu harus belajar yang bener, sebentar lagi ujian akhir. Bunda gak mau nilai kamu turun."
Aku:"Iya, Bunda, ini juga lagi ngerjain tugas bareng kok."
Bunda:"Bagus, tapi ingat, fokus utama sekolah. Pacaran bisa nanti-nanti."
Darahku terasa dingin. Aku tahu persis bagaimana kalimat itu bisa diartikan. Itu adalah kalimat seorang ibu yang protektif, tapi di telinga seorang gadis yang telah memberikan seluruh hatinya, itu adalah sebuah vonis. Sebuah tanda bahwa dia tidak diterima.
"Jadi... selama ini aku cuma gangguan, ya?"bisiknya, suaranya parau menahan tangis. "Aku... cuma bisa bikin nilai kamu turun?"
Satu tetes air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya. Dan itu cukup untuk menghancurkan hatiku.
"Eh, bukan gitu, Gal. Sumpah, bukan!"
kataku panik, aku merebut melemparkannya ke sisi lain sofa, seolah itu adalah sumber masalahnya. Aku duduk merapat, merengkuhnya. "Kamu salah paham. Bunda itu ngomong gitu ke aku, nasihatin aku sebagai anaknya. Bukan berarti dia benci atau ga suka sama kamu. Semua ibu kan begitu, khawatir sama anaknya."
Aku terus berbicara, mencoba merangkai kata-kata untuk memperbaiki kerusakan. Tapi dia hanya menggeleng pelan, air matanya kini mengalir semakin deras. Aku menariknya ke dalam pelukan, membiarkannya menangis di dadaku. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar, mendengar isak tangisnya yang tertahan. Aku hanya bisa mengusap punggungnya merasa tak berdaya dan sangat bersalah.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, isak tangisnya mulai mereda, berubah menjadi sesegukan kecil. Di tengah keheningan itu, dia mengangkat wajahnya yang basah kuyup. Hidungnya memerah, matanya sembap. Lalu, dalam sebuah gerakan yang paling tidak terduga, paling polos, dan paling kekanak-kanakan, dia membenamkan wajahnya ke jaket yang kukenakan dan... sruut... dia menyusutkan ingusnya di sana.
Aku membeku. Untuk sepersekian detik, otakku tidak bisa memproses apa yang terjadi. Tapi kemudian, perasaan gemes yang luar biasa hangat meledak di dalam dadaku, mengalahkan segalanya. Ini begitu nyata. Begitu jujur. Dia merasa begitu aman denganku hingga tidak perlu lagi jaim.
Tanpa sadar, aku tertawa kecil. Sebuah tawa lega.
Tawaku membuatnya mendongak, menatapku bingung dengan mata sembapnya. "Kok ketawa?"
Aku hanya tersenyum dan menunjuk noda kecil di jaketku. Dia mengikuti arah pandanganku. Matanya langsung membelalak ngeri saat sadar apa yang baru saja ia perbuat.
"IHHH, IMAMMM! ASTAGA, MAAF , AKU GA SENGAJA!" serunya sambil memukul lenganku pelan, wajahnya kini berubah merah padam karena malu. Kesedihan di matanya seketika sirna.
Aku tertawa semakin keras, dan akhirnya dia pun ikut tertawa di sela-sela rasa malunya. Dalam sekejap, suasana berat di ruangan itu pecah, hancur oleh momen paling konyol sekaligus paling manis. Saat tawa kami mereda, mataku menangkap sebuah gitar akustik yang bersandar di sudut kamarnya. Sebuah ide melintas di kepalaku.
"Itu gitar siapa? Boleh pinjam?"
"Punya abangku. Emang bisa?" jawabnya, menyeka sisa air matanya.
"Bisa lah, gitaris kafe," balasku sombong, yang langsung disambut dengan cubitan kecil darinya.
Aku mengambil gitar itu, menyetelnya sebisaku. Jari-jariku terasa aku, tapi aku menemukan beberapa kunci dasar yang kuhafal. Aku mulai memetik sebuah lagu pelan, lagu yang sering kami dengarkan. Suaraku gemetar pada awalnya, tapi aku terus bernyanyi, menatapnya, menjadikan lagu itu sebagai perpanjangan dari permintaan maafku.
Dia hanya duduk diam, memperhatikanku dengan senyum tipis. Saat bagian reff tiba, aku sedikit melambatkan tempo, memberinya isyarat dengan mataku. Dan dengan suara yang lembut, dia ikut bernyanyi. Suara kami yang tidak sempurna berpadu di dalam ruangan itu, mengisi keheningan dengan sesuatu yang jauh lebih baik daripada kata-kata.
Saat senar terakhir kupetik dan suaranya menghilang, kami hanya saling menatap. Kesedihan di matanya telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh sorot mata yang hangat dan penuh rasa terima kasih.
"Makasih ya mam," bisiknya. "Aku beneran ngerasa lebih baik sekarang."
Aku tersenyum. Sore itu, di dalam ruangan yang sama, kami telah melewati tiga musim yang berbeda: musim badai air mata, musim penuh tawa konyol, dan diakhiri dengan musim gugur yang tenang dan hangat. Aku belajar bahwa sebuah hubungan bukan hanya tentang melewati hari-hari cerah, tapi tentang bagaimana kita menari bersama di tengah hujan, mengubah genangan air mata menjadi pelangi dengan sebuah lagu sumbang. Dan noda di jaketku, itu akan menjadi pengingat abadi dari hari di mana aku sadar, aku telah menemukan rumah.
0 $type={blogger}:
Posting Komentar