Lembar Rahasia di Buku Biologi

      Ada hari-hari di masa sekolah di mana rasanya seluruh beban dunia ditumpahkan ke atas pundak seorang siswa SMP. Hari itu adalah salah satunya. Aku duduk di bangku kelasku yang mulai sepi, sementara teman-teman lain sudah berhamburan keluar setelah bel pulang berbunyi. Di hadapanku, terbentang tiga buku tugas dengan daftar pekerjaan yang terasa mustahil untuk diselesaikan dalam satu malam;rangkuman Biologi tentang sistem pernapasan, puluhan soal pilihan ganda Fisika tentang tuas dan katrol, dan esai sejarah tentang Kerajaan Majapahit.

     Kepalaku terasa berat. Aku hanya menatap tumpukan buku itu dengan tatapan kosong, menghela napas panjang tatapan kosong, menghela napas yang terasa berat. Rasanya aku lebih baik dihukum lari keliling lapangan daripada harus menghadapi semua ini sendirian. 

"Belum pulang?"

     Sebuah suara lembut membuyarkan lamunanku. Aku mendongak, dia berdiri di samping mejaku, tasnya sudah tersampir di bahu. Entah sejak kapan dia di sana.

"Eh belum nih, lagi liatin mahakarya guru-guru,"jawabku sekenanya, mencoba terdengar lucu padahal rasanya ingin menyerah.

     Dia tersenyum kecil, matanya melirik ke arah buku-bukuku yang terbuka. "Banyak banget, ya?"

"Banget,"kataku pasrah. "Ngga tahu deh bakal selesai kapan."

     Terjadi jeda sejenak. Dia tampak ragu-ragu, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu di dalam kepalanya. Lalu, dengan sedikit keberanian, dia berkata. "Kalau...kalau kamu mau, yang Biologi biar aku aja yang kerjain rangkumannya. Aku kebetulan tugas itu udah selesai."

     Aku terdiam, memproses tawarannya. Seorang primadona kelas yang pintar menawariku bantuan? Rasanya terlalu bagus untuk jadi kenyataan. "Serius? Ngga ngerepotin?"

"Ngga, kok. Sekalian aku baca-baca lagi," katanya sambil tersenyum, pipinya sedikit merona.

     Tanpa pikir panjang, dengan perasaan lega yang meluap-luap aku langsung menyodorkan buku Biologiku. "Wah, mau banget! Makasih banyak, ya!"

     Dua hari berikutnya terasa berbeda. Setiap kali kami berpapasan di koridor, ada sebuah rahasia kecil di antara kami. Aku ingin sekali bertanya tentang perkembangan tugas itu, tapi rasanya malu. Dia hanya akan melemparkan senyum misterius yang seolah berkata, "Tenang, semua aman." Momen-momen singkat itu membuat penantianku terasa semakin mendebarkan.

      Hingga akhirnya, saat kami sedang piket kelas bersama, dia mengembalikan buku itu. "Nih, udah selesai. Maaf ya kalau ada yang salah-salah," katanya sambil menyerahkan buku bersampul cokelat itu. 

"Harusnya aku yang Minta maaf. Udah ngebantuin tugas aku sebanyak ini," balasku dengan tulus.

      Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Beban di pundakku seakan terangkat separuhnya. Setibanya di rumah, aku melempar tasku dan langsung membuka buku Biologi itu di meja belajar. Aku terpukau. Halaman yang seharusnya kuis dengan rangkuman ini, kini sudah terisi penuh dengan tulisan tangannya yang rapi dan indah. Setiap poin penting diringkas dengan sempurna, bahkan ada beberapa diagram kecil yang ia gambar untuk mempermudah pemahaman. Dia tidak hanya mengerjakannya, tapi mengerjakannya dengan sepenuh hati.

     Setelah selesai mengagumi hasil kerjanya, entah kenapa, ada dorongan iseng untuk membolak-balik halaman buku itu sampai ke lembar paling akhir. Halaman kosong yang biasanya menjadi korban kebosananku saat pelajaran.

Dan jantungku seakan berhenti berdetak.

     Halaman itu tidak lagi kosong. Ia telah berubah menjadi sebuah kanvas rahasia, sebuah galeri pribadi yang penuh warna. Di bagian tengah, dengan spidol warna-warni, tergambar sebuah hati besar yang di dalamnya tertulis. "Kamu punya Aku ♡".

     Sebuah senyum lebar yang tak bisa kutahan  perlahan terbit di wajahku. Mataku mulai menjelajahi setiap sudut halaman itu, menemukan harta karun tersembunyi lainnya. Di pojok kiri bawah, ada gambar dua orang stickman-satu laki-laki dan satu perempuan-sedang bergandengan tangan. Di pojok kanan atas, ada daftar "Top 3 Pelajaran Yang Bikin Pusing" versinya, dengan fisika berada di nomor satu.

Di sela-sela gambar itu, ada tulisan-tulisan kecil yang ditulis dengan pulpen:

"Semangat ya! Jangan males-malesan lagi"

"Tanggal jadian kita jangan dilupain ya!"

lengkap dengan tanggalnya yang dilingkari.

Dan yang paling membuatku tertawa sekaligus terharu: "NB Kalau nilai Biologimu jelek, bukan salah aku ya! Aku udah usaha maksimal tuh!"

Seluruh halaman itu dipenuhi engan gambar bintang, bunga, dan hati-hati kecil yang mengisi setiap ruang kosong yang ada di halaman itu. Aku menatap halaman itu untuk waktu yang lama. Rangkuman Biologi yang rapi di halaman depan terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan engan "kekacauan" indah di halaman belakang ini.

      Aku mengusap salah satu gambar hati itu dengan ujung jariku. Dia tidak hanya memberiku jawaban dari tugas sekolah. Dia memberiku jawaban sesuatu yang jauh lebih berharga:Sebuah jendela langsung ke dalam hatinya yang tulus dan polos. Dan saat itu aku sadar, di antara semua rumus Fisika dan catatan Sejarah, halaman inilah yang akan menjadi bagian paling penting dari buku tugasku. Halaman yang akan selalu kuingat selamanya.










0 $type={blogger}:

Posting Komentar